LERES FK-KMK UGM – Learning Resource and Innovation Development Unit (LERES) FK-KMK UGM menghadirkan Sinema SAT-SET sebagai salah satu rangkaian Health Research and Innovation Expo (HRIE) 2026 pada Jumat, 25 September 2026. Melalui pendekatan inspiration talk, kegiatan ini menghadirkan pengalaman dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D.; dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A, Subsp. Neuro (K); dan dr. Nur Arfian, Ph.D. dalam mengembangkan riset dan pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan.
Ketiga pembicara berbagi cerita mengenai beragam inisiatif, mulai dari upaya meningkatkan kesadaran akan perlindungan data kesehatan, pemberdayaan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, hingga penelitian eksosom untuk pengembangan terapi nefropati diabetik. Pengalaman dan capaian yang dibagikan diharapkan dapat menginspirasi audiens untuk melihat peluang pengembangan riset dan inovasi, sekaligus mendorong lahirnya inisiatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Membangun Kepercayaan dalam Pemanfaatan Data Kesehatan
dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D., memperkenalkan My Data Our Health Indonesia atau “Dari Data Saya untuk Kesehatan Bersama”, sebuah inisiatif yang mengangkat pentingnya perlindungan privasi dan tata kelola data kesehatan di era digital. Pemanfaatan data kesehatan membuka peluang untuk meningkatkan kualitas layanan dan mendukung penelitian, tetapi manfaat tersebut perlu berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat.
Penelitian yang dipaparkan dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa 83% responden mempercayai penyedia layanan kesehatan untuk melindungi informasi kesehatan mereka, sedangkan 69% mempercayai peneliti kesehatan. Di sisi lain, 58% menilai bahwa hukum dan praktik organisasi yang ada belum cukup melindungi informasi kesehatan. Temuan ini menunjukkan pentingnya membangun kepercayaan publik melalui pengelolaan data yang transparan dan bertanggung jawab.

Pemaparan Penelitian “My Data Our Health Indonesia” oleh dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D.
Berangkat dari persoalan tersebut, kampanye My Data Our Health Indonesia mendorong masyarakat untuk lebih memahami haknya dalam penggunaan data kesehatan, termasuk bagaimana data dikumpulkan, dimanfaatkan, dan dilindungi. Kampanye ini digagas oleh CISDI bersama Transform Health Global, kemudian diimplementasikan oleh Center for Health Behavior and Promotion (CHBP) FK-KMK UGM bersama Ikatan Ahli Informatika Kesehatan Indonesia (IAHI). Inisiatif ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada kecanggihan sistem. Literasi masyarakat dan keterlibatan publik juga diperlukan agar pemanfaatan data dapat mendukung kemajuan kesehatan tanpa mengabaikan privasi dan kepercayaan masyarakat.
Membuka Peluang Kemandirian Ekonomi bagi Keluarga dengan ABK
dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A, Subsp. Neuro (K), memperkenalkan Rencang Massage, sebuah wirausaha sosial yang dikembangkan bersama tim lintas disiplin dari RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM. Program ini berangkat dari upaya mendukung orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) yang perlu menjalankan tanggung jawab pengasuhan sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Melalui pelatihan keterampilan pijat, orang tua memperoleh bekal untuk mengembangkan peluang usaha dengan waktu kerja yang lebih fleksibel. Pelatihan dilaksanakan bersama mitra Putri Kedaton melalui pembelajaran teori dan praktik, termasuk materi anatomi dasar dan public speaking. Peserta juga memperoleh sertifikasi sesuai skema pelatihan yang diselenggarakan.

Pemaparan Program Pengabdian kepada Masyarakat “Rencang Massage 2.0” oleh dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A, Subsp. Neuro (K).
Program ini telah menjangkau beberapa kelompok peserta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan hasil yang dipaparkan, peserta menunjukkan peningkatan keterampilan dan kepercayaan diri dalam memberikan layanan pijat. Rata-rata pendapatan peserta juga dilaporkan meningkat sekitar Rp1.000.000-Rp1.500.000 per bulan. Layanan yang dikembangkan mencakup kunjungan ke rumah pelanggan (home service) dan kerja sama dengan mitra, dengan pengaturan jadwal yang turut mempertimbangkan tanggung jawab peserta dalam merawat anak.
Nama “Rencang” berasal dari kata ngrencangi, yang bermakna mendampingi. Makna ini mencerminkan pendekatan program yang tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi juga berupaya mendukung keluarga dalam membangun kemandirian ekonomi. Rencang Massage memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan yang menghubungkan keterampilan, peluang usaha, dan kebutuhan keluarga dengan ABK.
Menggali Potensi Eksosom untuk Pengembangan Terapi Nefropati Diabetik
dr. Nur Arfian, Ph.D. memaparkan penelitian mengenai potensi eksosom sebagai pendekatan terapi untuk nefropati diabetik, yaitu kerusakan ginjal akibat diabetes. Penelitian yang melibatkan tim RISPRO LPDP UGM dan SCI Kalbe ini mengeksplorasi peluang pemanfaatan eksosom untuk membantu mengatasi kerusakan jaringan ginjal yang dapat berkembang menjadi fibrosis atau jaringan parut.
Eksosom merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dilepaskan oleh sel dan membawa berbagai molekul untuk menyampaikan informasi antarsel. Dalam penelitian ini, eksosom diuji pada hewan dengan kondisi kerusakan ginjal akibat diabetes. Hasil awal menunjukkan bahwa pemberian eksosom berpotensi membantu memperbaiki fungsi ginjal, mengurangi kerusakan pada glomerulus dan tubulus, yaitu bagian ginjal yang berperan dalam pengolahan dan penyaringan darah, serta menekan pembentukan jaringan parut (fibrosis) yang dapat mengganggu fungsi ginjal. Peneliti juga menemukan eksosom di jaringan ginjal setelah pemberian melalui injeksi.

Pemaparan Penelitian “Uji Efikasi Eksosom pada Model Nefropati Diabetes” oleh dr. Nur Arfian, Ph.D.
Meski memberikan hasil awal yang menjanjikan, penelitian ini masih memerlukan pengujian lanjutan untuk memastikan keamanannya dan memahami bagaimana eksosom bekerja di dalam tubuh. Karena masih berada pada tahap penelitian praklinis atau pengujian pada hewan, hasil tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa eksosom efektif sebagai terapi bagi manusia. Temuan ini membuka peluang untuk mengeksplorasi pendekatan baru dalam penanganan kerusakan ginjal akibat diabetes. Melalui penelitian lebih lanjut, potensi eksosom diharapkan dapat dipahami secara lebih mendalam sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan terapi di masa mendatang.
Ketiga paparan dalam Sinema SAT-SET HRIE 2026 menunjukkan kontribusi riset dan inovasi kesehatan melalui berbagai pendekatan, mulai dari perlindungan data kesehatan, pemberdayaan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, hingga eksplorasi potensi terapi nefropati diabetik. Berbagai inisiatif tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Inisiatif tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Author : Nari Nawang Purbamandala
Editor : Meilisa Khoiriya